Dan carilah pada apa yg telah dianugerahkan Allah kepadamu
kebahagian negeri akhirat dan janganlah kamu melupakan kebahagiaanmu
dari keni’matan dunia.” Hikmah yg diperoleh dari ajaran
berpuasa Ramadan nilai kesalehan selalu berada pada jaringan
sosial masyarakat dilandasi oleh kualitas iman dan takwa. Sehingga dalam
kalbu kita tumbuh pribadi yg kuat senantiasa ikhlas beramal dan bukan
pribadi yg selalu menjadi beban orang lain. Kondisi sekarang kesalehan
sosial yg berwujud rasa peduli terhadap merebaknya kemiskinan terlihat
jelas konteksnya.
Seperti tidak menentunya kondisi perekonomian
rakyat anjloknya nilai rupiah yg dirasakan pahit bagi masyarakat
golongan bawah. Situasi perekonomian yg tidak jelas juntrungnya di
berbagai aspek kehidupan menumbuhkan nafsu egoistis di kalangan
masyarakat tingkat menengah ke atas menjauhkan diri dari nilai-nilai
kemanusiaan menggiringnya ke sikap apatisme. Esensi ajaran Islam tidak
mengajarkan manusia bersikap masa bodoh terhadap masyarakat lingkungan
lebih-lebih terhadap mereka yg hidup kekurangan dan miskin.
Islam
tidak boleh membiarkan umatnya hidup serba kekurangan melainkan
dijadikan manusia itu menjadi mahluk yg hidup dalam keseimbangan antara
keperluan duniawiyah dan ukhrawiyah. Karena itu hikmah puasa Ramadan
secara kondusif melahirkan dua dimensi keberkahan kehidupan dunia dan
akhirat.
Secara fisik dgn berpuasa seseorang harus mampu
mengendalikan nafsu sekularitas hedonistis egoistis maupun sikap hidup
kompetitif konsumtif agar hidup ini senantiasa dihayati sebagai rahmat
dan ni’mat dari Allah SWT. Mereka harus menahan rasa lapar dan haus
tidak melakukan hubungan badan dgn istri dari waktu fajar hingga
matahari tenggelam di petang hari serta tidak melakukan perbuatan jahat
tidak mengeluarkan kata-kata kotor menahan emosi dan nafsu amarah serta
berbagai perbuatan tercela lainnya.
Secara psikologis
seseorang yg berpuasa Ramadan menyatukan dirinya dalam kondisi
penderitaan akibat rasa lapar dan haus yg selama itu lbh banyak diderita
oleh fakir miskin yg dalam hidupnya selalu terbelenggu oleh kemiskinan.
Esensi puasa Ramadan juga memberikan nilai ajaran agar orang yg beriman
dan bertakwa mengikuti tuntunan Nabi saw yg hidupnya amat sederhana dan
selalu bersikap lugu dalam segala aspek kehidupannya.Beliau
menganjurkan kepada umat Islam “berhentilah kamu makan sebelum
kenyang.” Contoh sederhana tsb mudah didengar tapi terasa berat
dilaksanakan jika seseorang tengah bersantap dgn makanan lezat. Memang
itulah tuntunan yg memiliki bobot kesadaran diri tinggi terhadap
lingkungan masyarakat miskin yg berada di lingkungannya.
Di
bagian lain Nabi saw mencontohkan “berbuka puasalah kamu dgn tiga
butir kurma dan seteguk air minum setelah itu bersegeralah salat magrib.”
Kaitannya dgn itu Nabi Saw menganjurkan agar selalu gemar memberi makan
utk tetangga yg miskin. Fenomena kesadaran fitrah di atas dalam puasa
Ramadan saat ini diharapkan mampu membentuk rasa keterikatan jiwa dan
moral utk memihak kepada kaum dhuafa fakir miskin. Pendekatan ini harus
diartikulasikan pada pola pikir dan pola tindak ke dalam bingkai amal
saleh mampu melebur ke dalam pola kehidupan kaum mustadh’afin.
Seperti
dicontohkan Nabi SAW saat membebaskan budak masyarakat
kecil dan golongan lemah yg tertindas dgn membangkitkan ‘harga diri’
dan nilai kemanusiaan. Nabi SAW bisa hidup di tengah mereka dalam
kondisi sama-sama lapar tidur di atas pelepah daun kurma. Begitu
dekatnya Nabi Saw dgn orang-orang miskin sampai-sampai beliau mendapat
julukan Abul Masakin . Ketika ada seorang sahabat bertanya terhadap
keberadaan dirinya beliau menjawab “carilah aku di tengah
orang-orang yg lemah di antara kalian.” Isyarat yg diberikan Nabi
Saw ini menggugah seorang pemikir Islam dari Turki Hilmi H. Isyik
mengatakan “Orang yg bersikap masa bodoh terahdap orang-orang miskin
di sekitarnya tidak mungkin ia menjadi seorang muslim yg baik.”
Pengertian di atas mengambil esensi dari Sabda Nabi Saw yg maksudnya
tiap orang muslim jangan mengabaikan dasar pokok iman ibadah dan akhlak.
Kalau hal itu terabaikan amal atau muamalat duniawi akan menyimpang
tidak terkontrol nafsu kemurkaannya tidak terkendali sehingga orang akan
berperilaku sekehendaknya sendiri tanpa memperdulikan lingkungan dan
penderitaan orang lain. Dampaknya dapat menghancurkan sikap toleransi
dan solidaritas sesama umat Muslim.
Nabi Saw bersabda “Barangsiapa
tidak merasa terlibat dgn permasalahan umat Islam dia bukanlah dari
golonganku.” Ini jelas memperingatkan permasalahan umat Muhammad yg
tumbuh di dunia bukan hanya ibadah salat dan puasa saja juga luluh ke
dalam nasib penderitaan sesama umat. Konteksnya dgn puasa Ramadan Nabi
saw menegaskan “begitu banyak orang berpuasa tapi yg dihasilkannya hanya
rasa lapar dan haus semata-mata.” Sabda ini mengandung arti hikmah
puasa Ramadan bukan sekadar menahan rasa lapar dan haus menahan
nafsu dan keinginan hedonistis melainkan secara esensial
mengandung makna penghayatan rohani amat yg dalam yakni ekspresi jiwa
dan konsentrasi mental secara utuh dan solid di mana sendi-sendi mental
dan jiwa terperas ke dalam fitrah diri meluruskan disiplin pribadi dgn
baik.
Semua rangkuman di atas merupakan intisari dari firman
Allah Swt “Hai orang-orang yg beriman diwajibkan atas kamu berpuasa
sebagaimana di wajibkan atas orang-orang sebelum kami agar kamu
bertakwa.” . Di sinilah kekuatan iman dan takwa
seorang Muslim diuji. Sehingga jelas nilai takwa seorang Muslim
terangkat pada derajat hidup manusia ke dalam orientasi kehidupan
duniawi sekaligus memperoleh justifikasi etis keakhiratan. Allah Swt
berfirman “Dan carilah pada apa yg telah dianugerahkan Allah
kepadamu kebahagian negeri akhirat dan janganlah kamu melupakan
kebahagiaanmu dari keni’matan dunia.” . Dari sana pula pendekatan
yg fleksibel sesama umat dijalin dgn batas pengertian tertentu yakni
berpegang pada pokok akidah yg kita yakini sehingga upaya mengangkat
kemiskinan terwujud dgn semangat kebersamaan dan solidaritas yg tinggi
dalam implementasi wadah puasa Ramadan yg penuh rahmat ampunan dan
barakah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar